Not teenager anymore


Di malam yang hening, saat penunjuk waktu berdenting, ku bergeming. Mencoba mengurai makna suatu peristiwa penting.
Demi masa, yang telah bergulir hingga pada hari ini dengan begitu cepatnya. Kurang lebih 2 dekade yang lalu saya dilahirkan di dunia yang baru ini sebagai seorang putri pertama dari pasangan suami isteri bernama Bapak Muhammad Riadus Solihin dengan Ibu Sri Puji Lestari. Bersumber dari Ibu saya yang pernah mengatakan kala itu USG menunjukkan kemungkinan anak yang dikandungnya berjenis kelamin Laki-laki, sehingga ayah saya sangat bergembira dan sudah menyiapkan nama yang juga sempat menjadi daftar calon nama adik laki-laki saya, yaitu 'Durratun Nasihin'. Hal ini saya ketahui dan telah diakui Ayah saya ketika berembug untuk pemberian nama adik laki laki pertama saya yang akhirnya bernama Muhammad Ilham Ibrahim 
Cukup lucu bagi saya cerita dari kedua orangtua saya itu. Merekalah "guru besar" dalam kehidupan saya yang telah memberi, mentransfer, melakukan banyaaak hal untuk diri saya. Sungguh teramat keterlaluan diri ini, yang awalnya kurang respect dan berpikir tiap perkataan hanyalah rangkaian kata pembentuk kalimat bahkan menganggap remeh nasihat beliau-beliau yang sebenarnya sangat "worth it" ini, hingga akhirnya saya menyadari pentingnya hal itu dalam menghidupi kehidupan. Terimakasih
Sesuai dengan salah satu fungsi keluarga itu sendiri, yakni sebagai fungsi edukasi atau fungsi pendidikan. Mulai dari penanaman nilai nilai yang kadang dianggap sepele namun sebenarnya merupakan dasar dari pola pikir yang akan terimplementasi dalam sebuah tingkah laku dan kemudian membentuk karakter/kepribadian seseorang. Sebenarnya fungsi tersebut telah termaktub dalam fungsi agama, sebagaimana telah dijelaskan dalam agama yang saya percaya bahwa Ibu (orangtua) adalah madrasah pertama bagi anak. Fungsi agama terlaksana saat proses penanaman aqidah dan pengenalan terhadap norma-norma agama terjadi. Sehingga seseorang dapat dikategorikan menjadi beragama atau tidak, berakhlak atau tidak dan sebagainya. Fungsi lainnya akan terlengkapi secara otomatis ketika dua fungsi diatas telah terlaksana. Fungsi-fungsi lain seperti fungsi perlindungan, kasih sayang, sosial budaya, rekreatif dan ekonomis. Karena bagi saya semua itu telah dijelaskan dalam agama yang saya anut. Jadi ketika orang tua saya menanamkan norma agama secara tidak langsung fungsi fungsi lain dari keluarga tersebut juga telah terlaksana. Dan tak lupa satu fungsi lagi yang telah terlaksana ketika pasangan suami isteri tersebut menjadi orang tua, adalah fungsi biologis keluarga untuk melanjutkan keturunannya.
Yang tidak boleh dilupakan saat proses pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga tersebut adalah semua harus sesuai (pas) pada takaran dan waktunya. Tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih karena akan mengganggu proses atau fungsi yang lainnya. Sedikit contoh saja, dalam fungsi perlindungan misalnya, jangan pernah orang tua melindungi dengan berlebihan. Saya teringat ketika teman saya pulang dalam keadaan menangis, orang tua mereka akan mendatangi teman bermain anaknya dan menanyakan bahkan memarahi teman anaknya yang dianggap bersalah. Hal itu tidak pernah terjadi pada diri saya. Saya ingat betul perkataan Ayah saya saat sekali waktu TK saya pulang dalam keadaan menangis, beliau berkata "kalau main malah pulangnya jadi nangis, ya ndakusah main aja" tentu saja kalimat itu tidak memuaskan hati saya. Lalu saya pun pergi menemui Ibu saya, dan beliau pun berata, "kalau bermain ndakboleh cengeng". Kedua jawaban tidak mengobati hati saya, namun saat itu saya diam karena saya takut tidak diperbolehkan bermain lagi. 
But it is not about that, the point is... sekarang, yang saya simpulkan, mereka ingin membentuk saya menjadi anak yang berhati kuat meski tersakiti. Mungkin jika saat itu orang tua saya melakukan hal yang sama dengan orang tua lainnya, saya akan tumbuh menjadi anak yang lemah dan manja. Disamping itu, orang tua saya juga menunjukkan sisi lain mereka sebagai pasangan yang baik: yang memang harus telah benar benar menjadi satu. Satu visi dan misi. Sehingga ketika berumah tangga (dalam hal ini : mendidik anak) tidak terjadi cek-cok yang dapat mengganggu berlangsungnya proses pendidikan pada sang anak itu sendiri.
Melalui ini, sebenarnya saya hanya ingin mendeskripsikan betapa berartinya keluarga bagi saya. 75% diri saya terbentuk karenaNya yang telah menjadikan saya sebagai bagian dari Keluarga Bapak M. Riadus Solihin. 
Karena itu, sudah sepatutnya kita meningkatkan rasa syukur kita kepada Tuhan YME yang telah menganugerahkan makhluk-makhluk luar biasa yang disebut orang tua atau bagi saya lebih pantas disebut "malaikat". Terimakasih,
Alhamdulillahirabbil'alamin.
-Annas-


Komentar

Postingan Populer