OlahRasa
Belum lama setelah diserang pandemi, ada yang menarik mengusik dalam pikiran memaksa untuk mencari tahu dan belajar lagi. Salah dua dari gejala Corona Virus Dissease adalah hilang rasa dan hilang penciuman yang seolah menampar kita untuk lebih peka. Bahwasannya output rasa manis, pahit, asin, dan asam yang selama ini kita rasakan letaknya dari lidah. Makanan dan minuman semanis apapun yang berasal dari luar tubuh kita akan menjadi hambar ketika lidah sendiri tidak berfungsi. Jangan-jangan selama ini kita tidak bisa menikmati sesuatu karena ketidak-peka-an Indra kita sendiri? Apa hati tidak dapat disebut sebagai alat indra juga? Mungkin kesedihan dirasakan juga karena kita kurang peka mengolah rasa itu sendiri.. Apa tidak mungkinkah jika sebetulnya kita memerlukan adanya upgrade software?
Rasa memang tatarannya kualitatif. Mengolah rasa adalah olahan makna yang selama ini sudah disepakati hati dan diri sendiri. Rasa itu otentik, dia tidak akan pernah sama sekalipun jika sengaja kita mengulang moment yang sama. Jelas feelsnya sudah berbeda karena selalu ada selubung misteri yang terbalut romantisme. Seperti kata Budayawan Sujiwo Tejo, bahwasannya ketika kita membayar sopir ojol, kita hanya membayar atas jasa yg ia berikan, bukan rasa. Ketika kita makan di warung kita hanya membayar untuk tenaga yang dikeluarkan untuk memasak dan mengolah makanan tersebut sehingga menjadi hidangan yang bisa dinikmati, tapi tidak untuk rasa. Yang kita beli adalah jasanya. Sedangkan rasa tidak ternilai, tak ada harganya. Maka itu sebagai seorang customer pengguna/penerima jasa yang baik, setidaknya tetap usahakan untuk berterimakasih walaupun sudah me"rasa" bayar.
Di masa pandemi seperti sekarang ini, mungkin saat yang tepat untuk kita dapat mencoba melakukan kegiatan olahrasa ini. Cobalah tanya lagi pada hati, lakukan observasi, gali lagi hobi-hobi baru, konsentrasi, olah emosi, tetap berimajinasi, dan dapatkan inspirasi. Memang saat ini tak ada harapan lain selain semoga corona segera pergi. Berharap semua sektor segera normal kembali. Lalu kapan kita ngopi bareng lagi? Bagaimanapun rasa kopi tetaplah pahit, tak ada jalan lain selain harus menikmati kepahitan seperti kopi yang pahitnya ternyata juga bisa dinikmati.
Hidup hanyalah perihal bagaimana cara kita menikmati, walaupun kenyataannya sering diluar ekspektasi. Kalimat itu adalah satu kalimat yang bagus untuk menenangkan diri sendiri. Tapi saran saya jangan disampaikan kepada teman yang sedang emosi, apalagi habis ditinggal pacarnya pergi. Walau (jelas) tidak sempurna, biarlah hidup ini indah begini adanya. Tetap bertujuan meski bukan untuk mencapai tujuan itu. Tetap berjalan meski tidak tahu kapan akan sampai. Karena kita bukan harus menang, tapi hanya harus terus berjuang. Berjuang dan berharap bisa menjadi berarti. Meski tiap hari satu persatu sanak saudara, sahabat, dan kerabat pergi, selayaknya dapat dijadikan introspeksi agar lebih mawas diri. Pasang surut berulang ulang sebagaimana siklus berjalan. Apakah masih belum kita temukan arti?
Selamat berjuang atas kemerdekaanmu sendiri! Mari saling menjaga ruang demi situasi yang ideal melewati tiap tahap dan (mungkin) level berepisode panjang ini. :D Kita adalah partikel-partikel pejuang dalam diri kita yang selayaknya menerangi negeri dengan gemerlap cahaya warna warni. Manusia seperti pelangi hadir saling melengkapi. Kita adalah generasi yang berbudaya, yang berbhineka, yang tangguh dan terus bertumbuh. Dirgahayu Indonesiaku. ♥️🤍

Keren
BalasHapus76 Tahun Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh, Perasaan Hatiku Padanya Takkan Pernah Rapuh.
BalasHapus#hiyahiyahiya :v