IndONEsia Strong from Home

"Suka puisi ?" Kalimat tanya sederhana yang terlontar tersebut berhasil membangun mood menulis saya, yang tiba-tiba menggerakkan jemari untuk mengetik beberapa kalimat disini.
Berbicara tentang puisi, saya tidak banyak tahu sebenarnya (hanya seorang penikmat amatiran). Namun karena hobi saya berselancar di dunia maya mempertemukan saya dengan syair Doa seorang Ayah untuk anaknya oleh Douglas Mac Arthur. Sebuah magnet kuat tersendiri bagi the one who get over excited easily about parenting like me. Awalnya Saya juga tidak tahu siapa beliau, saya hanya mengenalnya melalui puisinya yang menurut saya *atmosphiring* (baca: mendidik). =D
Bagi Anda yang penasaran seperti saya waktu itu bisa googling dan membaca sekilas tentang beliau.

Baiklah, langsung saja berikut ini puisi Dari seorang Good Father 😍 untuk anaknya, This is it...
"Prayer For Arthur" by Douglas MacArthur
Build me a son, O Lord, who will be strong enough to know when he is weak, and brave enough to face himself when he is afraid; one who will be proud and unbending in honest defeat, and humble and gentle in victory.
Build me a son whose wishes will not take the place of deeds; a son who will know Thee — and that to know himself is the foundation stone of knowledge.
Lead him, I pray, not in the path of ease and comfort, but under the stress and spur of difficulties and challenge. Here let him learn to stand up in the storm; here let him learn compassion for those who fail.
Build me a son whose heart will be clear, whose goal will be high; a son who will master himself before he seeks to master other men; one who will reach into the future, yet never forget the past.
And after all these things are his, add, I pray, enough of a sense of humor, so that he may always be serious, yet never take himself too seriously. Give him humility, so that he may always remember the simplicity of true greatness, the open mind of true wisdom, and the weakness of true strength.
Then I, his father, will dare to whisper, “I have not lived in vain”
(sumber : http://www.revistainterforum.com/english/articles/Cultural_Pub.html )

Puisi yang bermakna sangat dalam jika kita membacanya berulang dan mencoba memahami maksud doa seorang Ayah untuk Anaknya tersebut. Kembali mengingatkan para orang tua dan para Pendidik untuk instropeksi dan para calon orang tua dan calon pendidik untuk banyak belajar lagi. Apakah sudah benar-benar atmosphiring (meng-atmosphere) ? Apakah sudah menciptakan suasana nyaman bagi anak belajar ? Mari kita ulas bait demi bait doa tulus yang sangat menyentuh ini. <3

"Tuhanku...  Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya."
..kuat untuk mengetahui Kelemahannya. Kalimat itu menunjukkan bahwa manusia sempurna itu tidak ada (kecuali utusan Allah). Bahwa superhuman is nothing, it just human. Yes human. Seseorang dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya itu manusiawi. Hal yang lumrah bagi manusia. Tugas kita adalah untuk saling mengingatkan, menguatkan dan melengkapinya, bukan untuk menyalahkan apalagi mempermasalahkannya. Jadi bukan masalah jika seorang anak melakukan suatu kesalahan, karena itu manusiawi. Bahkan orang dewasa dan orang tua sekalipun juga tak luput dari kesalahan. Jadi, sebagai yang sedikit lebih dulu terlahir dan sedikit tahu lebih dahulu ketimbang anak, maka perlu belajar lagi agar dapat mengambil hikmah dari kesalahan tersebut agar tak terulang dikemudian hari. Utamanya diantisipasi agar anak tak mengulang kesalahan yang diperbuat tetuanya.
"Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan."
Dan berani.... dalam ketakutan. Bahwa ketakutan itu alami dan keberanian sebenarnya bukan berarti tidak ada rasa takut, tapi berani adalah berhasil menakhlukkan rasa takut itu sendiri. 
"Manusia yang sabar dan tabah dalam kekalahan. Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan. "
Kalah dan menang memang sudah biasa, hal ini sering sekali disampaikan orangtua saya terutama pada adik saya ketika hendak atau selesai bertanding sepak bola. Bahwa kalah dan menang itu siklus yang tidak bisa dihindari. Memang akan lebih bijak jika anak diajarkan untuk bersikap sportif. Bisa menerima kekalahan dengan legowo dan tidak sombong ketika menang. Karena jika hal ini sudah tertanam, anak tersebut tidak akan takut kalah atau menang sehingga ia akan lebih memilih untuk jujur, tidak akan menghalalkan segala cara (cheating) untuk menang. Seorang Ibu yang sedang menunggu anaknya di pertandingan sepakbola pernah mengatakan bahwa, "ambisi itu boleh dan perlu ada, tapi mewujudkannya harus dengan cara yang benar." Untuk itu, tetap selalu berikan apresiasi pada anak ketika ia kalah ataupun menang. #paretingnotecolongan
"Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja."
Disini lebih ditekankan bahwa cita-cita dan angan-angan ini berbeda. Seperti simpati dan empati. Perbedaannya terletak pada aksi (eksekusinya). Selain diajak bermimpi setinggi tingginya, anak juga harus diajak mewujudkan mimpi mimpi itu agar tak hanya menjadi mimpi. Jangan merendahkan mimpi agar sesuai dengan kenyataan, namun buatlah kenyataan seperti yang di impikan. Gud luck 😉
"Seorang Putera yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan."
Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu. Ya. barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya. Seseorang jika sudah mengenal, mengerti dan paham siapa dirinya, apa tujuannya, dan lain sebagaina sudah jelas ia ketahui dan pahami, maka ia akan melakukan hal yang semestinya ia lakukan tanpa disuruh dan dipaksa, semuanya dengan senang hati, karena outputnya berasal dari kesadaran, bukan paksaan.
"Tuhanku... Aku mohon, jangan pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak. Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan. Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya."
Yang diatas ini terkesan kejam memang, namun sebenarnya merupakan doa yang tegas. Bukankah kesulitan itu datang bersama kemudahan? Bukankah orang yang tangguh tidak terbentuk dari kemudahan, melainkan muncul dari kesulitan-kesulitan yang berhasil ia takhlukkan. Berbagai macam kendala akan selalu ada untuk kita hadapi. Semakin banyak kesulitan, akan menjadikan kita semakin baik, makin terampil dan siap menghadapi tiap permasalahan yang muncul. Ibarat pedang yang ditempa sebelum akhirnya menjadi senjata yang menakhlukkan musuh. Collombus terkenal karena telah berlayar melawan badai di lautan, bukan terkenal karena naik perahu di danau. Edison pun dikenal setelah percobaan yang kesekian kali mengalami kegagalan hingga akhirnya dikenal sebagai penemu lampu. Memberikan kasih sayang pada anak itu pasti, tapi bukan berarti memanjakannya. Semoga kita semua selalu diberikan kekuatan dalam naunganNya. Aamiin.
"Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain."
Kalo untuk yang ini langsung saja,
"Ketahuilah, kamu semua adalah pemimpin dan semua akan diminta pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya." (H.R Bukhari)
Sudah familiar kan pastinya? jadi sudah jelas perintah untuk dapat bertanggung jawab atas tugas yang sudah diamanahkan pada tiap manusia itu, setidaknya memimpin dan tanggung jawab atas diri sendiri kepada Sang Pencipta.
"Berikanlah hamba seorang putera yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka. Putera yang berhasrat Untuk menggapai masa depan yang cerah namun tak pernah melupakan masa lampau. Dan, setelah semua menjadi miliknya, berikan dia cukup rasa humor. Sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh namun tetap mampu menikmati hidupnya."
Sajak tersebut mengajak untuk menjadi seorang yang luwes dan fleksibel, bisa serius disaat serius tapi juga bisa diajak bercanda oleh siapapun, tidak kaku. Seorang yang memandang ke depan namun juga tidak melupakan masa lalunya. Bahkan seorang Presiden RI pertama pun juga telah menekankan untuk tidak melupakan sejarah meskipun kelak menjadi orang besar, sangat penting mengingat masa lalu sesekali untuk belajar dari cerita-cerita pengalaman masa lalu tersebut sekedar introspeksi diri.
"Tuhanku... Berilah ia kerendahan hati, agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan hakiki. Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna. Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan berani berkata "hidupku tidaklah sia-sia". "
Nah yang paling akhir ini yang paling mengena, dimana keberhasilan seorang Ayah(Orangtua) bukan hanya ketika anaknya menjadi orang kaya raya, melainkan manjadi seorang anak yang berbakti dan bermanfaat bagi lingkungannya. Jika telah memahami dan menjadi manusia yang seutuhnya, maka dengan sendirinya akan dapat berkontribusi melalui kebermanfaatannya pada lingkungan sekitar terlepas dari profesi apapun itu. Untuk itu orang tua hendaknya lebih sering menanamkan nilai-nilai basic ini agar generasi kita tak hanya menjadi manusia robot (human doing) tapi juga dapat memanusiakan manusia (human being). Kita semua perlu diperbaiki dan memperbaiki lingkungan sekitar kita dengan cinta. Karena semua berawal dari niat suci dalam hati. Menurut saya ada satu kalimat yang cocok menjadi penutup tulisan ini :
“dekatilah manusia itu dengan kebaikan, maka dia akan menjadi baik.” 
Sebagai seorang yang menyukai puisi terjemah yang berjudul Doa untuk Putraku diatas, saya percaya bahwa doa itu tidaklah pasif, melainkan ia bergerak dan aktif.*)
*)syarat dan ketentuan berlaku
Hehe.
Puji Tuhan Alhamdulillahirabbil Alamin

Komentar

Postingan Populer