Bahaya Lidah
Terinspirasi dari sebuah buku menarik berjudul bahaya lidah yang tergeletak di rak buku musholah.
Alkisah suatu hari seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah! Sungguh si fulanah itu terkenal banyak shalat, puasa, dan sedekahnya. Akan tetapi juga terkenal jahat lidahnya terhadap tetangga-tetangganya.” Maka berkatalah Rasulullah SAW kepadanya, “Sungguh ia termasuk ahli neraka.”
Kemudian laki-laki itu berkata lagi, “Kalau si fulanah yang satu lagi terkenal sedikit shalat, puasa dan sedekahnya, akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Maka Rasulullah SAW berkata, “Sungguh ia termasuk ahli surga.” (H.R Muslim)
Sebagai makhluk sosial, manusia tentu tidak bisa lepas dari komunikasi dan interaksi dengan sesama. Setiap hari kita pasti bertutur kata. Tak ada manusia yang bisa hidup tanpa berbicara. Komunikasi merupakan aspek penting dari seluruh proses interaksi sosial. Baik buruknya proses interaksi sosial salah satunya dipengaruh oleh bagaimana kita bertutur kata. Karenanya, agar apa yang kita ucapkan tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri, atau karena ketidak tahuan kita malah dapat membahayakan orang lain baik di dunia atau di akhirat, maka kita perlu cermat dan berhati-hati dalam berbicara.
Cermat dalam arti mengerti dengan baik bahwa kita hanya boleh berbicara yang memiliki kandungan manfaat, ilmu, atau nasehat, serta yang bisa menjernihkan sebuah permasalahan. Jika kita tidak mengerti apa yang harus kita ucapkan sebaiknya diam, lalu berpikir sebelum memutuskan untuk ikut berbicara.
Seringkali seseorang berbicara tanpa diawali proses berpikir dan tidak melalui pertimbangan sebelumnya. Tindakan seperti itu berpotensi mengundang masalah baru yang boleh jadi akan berlarut-larut, sehingga memperkeruh keadaan dan mengancam ukhuwah dengan sesama.
Pepatah mengatakan, “Mulutmu harimaumu.” Oleh karena itu, kecermatan dalam berbicara mutlak harus kita usahakan. Kita perlu tahu secara pasti, kapan kita harus bicara, apa yang harus kita bicarakan, dan paling penting adalah manfaat apa yang akan diperoleh diri sendiri, yang mendengar dan orang lain, ketika kita hendak berbicara.
Kita harus bisa mengetahui posisi kita berada. Jika dalam situasi kita tidak mengerti apa yang harus kita ucapkan, alangkah lebih baik kita tidak berbicara (diam). Akan tetapi, ketika kita mengerti secara mendalam dan komprehensif akan hakikat sesuatu dan penjelasan tentang sesuatu itu sangat dibutuhkan, maka berbicara dalam konteks ini adalah wajib. Jika sudah paham ilmunya maka yang perlu diperhatikan adalah keterampilan berbicara sepeti apa porsinya dan bagaimana cara menyampaikannya. Sebagaimana telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya.
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” (HR. Bukhari).
Imam Nawawi menjabarkan bahwa hadis tersebut adalah hadis shohih, yang menjelaskan bahwa kita tidak pantas berbicara kecuali berbicara yang baik dan jelas-jelas mengandung maslahat. Bila diragukan kemaslahatannya, maka diam adalah langkah yang utama yang perlu dilakukan. Maka benar saja bahwa perkataan yang baik itu lebih utama daripada sedekah yang diungkit-ungkit hingga menyakiti perasaan yang menerimanya.
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Baqarah: 263).
Mari kita menjaga lidah kita dari kata-kata yang tak berguna. Kita tidak pernah tahu kapan perkataan kita menyakiti orang lain. Semoga pembicaraan yang kita lakukan dapat mengundang berkah dan ridha Allah SWT.

Komentar
Posting Komentar