Every Day was a History

Hari ini termasuk hari yang cukup berat bagi saya. Tadi pagi ketika saya berangkat menuju kampus, jalanan yang biasa saya lalui mengalami macet hebat. Jarak tempuh rumah saya ke kampus bahkan menjadi 3x lebih lama dari biasanya yang kira-kira hanya 1 jam. Mengetahui situasi yang seperti itu, saya lekas menghubungi teman saya untuk memintakan ijin kepada dosen saya yang bernama bu Brillian bahwa saya akan datang terlambat. Beruntunglah beliau tidak mempermasalahkan hal itu. Beliau berhalangan hadir karena ada kewajiban lain, mengingat di prodi saya sedang ada deadline untuk pengisian borang akreditasi, sehingga kuliah saat itu diisi dengan pengerjaan tugas mandiri.
Saat berada di tengah kemacetan, saya menemui banyak tingkah asli manusia mulai bermunculan karena tekanan akibat kemacetan tersebut. Mulai dari seorang pengendara yang marah karena terserempet pengendara lainnya, kemudian Pak Polisi yang tidak dapat mengendalikan emosinya karna satu pengendara motor yang melawan arus dan tak dapat diatur. Hingga para ibu dan pelajar perempuan pengendara motor yang pingsan akibat lelah diterpa panas matahari. Maklum saja, saya hampir 2 jam terjebak dalam kemacetan itu. Alhamdulillah saya masih bisa bertahan dengan meniru trik seorang bapak bapak paruh baya yang mematikan mesin dan menaiki motor dalam keadaan disangga (dijagang). Hehe.
Salah satu yang paling menarik bagi saya, yaitu saya menemui kendaraan dengan plat nomor unik. Dimana huruf belakangnya terbaca "EEK" 

Sangat sepele memang, namun hal ini dapat memecah tawa saya ditengah kemacetan. Di situ saya teringat bahwa sebagaimanapun keadaan kondisi yang kita alami, akan selalu ada alasan untuk tersenyum. Bahwa bahagia itu bisa timbul dari dalam diri kita yang tertunduk sesaat,  merenung, melepaskan beban saat itu.. lalu mensyukuri nikmatNya hingga detik itu. Bahagia bukan melulu hal-hal muluk perkara uang seperti harta melimpah, dapat membeli atau mendapat benda mewah, mahal, liburan pergi jauh, keliling Eropa, party 7hari7malam, naik gunung dan sebagainya. Karna kaya itu letaknya di hati. Semua tentang dari sisi mana kita melihat, dari sudut mana kita memandang bahagia itu sendiri. Persepsi manusia itulah yang membuat bahagia menjadi berbeda-beda.  Like kak Tipang ever said, "Happiness is not a thing, it is a state of mind." So, everybody has their own standart. Ya walaupun emang ada aja sih orang yang mengukur itu dengan uang. Saya bukan termasuk orang yang seperti itu, tapi saya juga tidak menyangkal jika ada beberapa hal(thing) yang dijual, nah belinya pake uang kan? yah akhirnya tidak dapat dipungkiri "Everything Needs Money, But Money isn't Everything" atau mau dibolak balik juga tetep sama aja. Uang bukan segalanya teman.. Lebih simpelnya kayak gini, mungkin orang bisa beli gelar, tapi orang itu ndakbisa beli ilmu. Orang bisa beli obat, tapi juga ndakbisa beli kesehatan kan...(?!) Dan semua butuh uang, makanya kita musti usaha terus, usahain tuh kebahagiannya masing masing. kalo yang bahagianya butuh uang segunung, ya monggo kerja dan nabung biar punya uang segunung itu. :))

kalo ndakmau kerja yaudah tunggu aja ada hujan uang kyk gini terus tadahin pake ember (y)

Dari cerita ini Saya harap setiap orang mampu menemukannya sendiri. Hal yang membuatnya tersenyum dan bahagia. Mungkin dimulai dari sepotong senyuman atas wujud rasa syukur terhadap hal yang sangat kecil sekalipun. Sesederhana kesempatan membuka mata dan bernafas misalnya. Ingat, "it is not a thing, but State of Mind". Dengan begitu kita bisa ciptakan kebahagiaan itu, setidaknya untuk diri kita sendiri. Maka, tak perlu menunggu dibahagiakan, atau malah mengemis perhatian.. tapi mulailah membahagiakan! Berbahagialah karena Tuhan selalu bersamamu :))
Gudluck

Komentar

Postingan Populer